FATWA KYAI

Latihan Bootstrap 3 Accordion

Hanya orang-orang yang memperoleh hidayah (petunjuk) dan taufik (pertolongan) Allah saja yang dapat beriman kepada-Nya. Alam semesta dengan segenap keajaiban sekaligus keteraturannya, ayat-ayat Al Qur’an yang tak tertandingi dari segala segi, akal yang sangat canggih, semuanya tak berarti apa-apa bagi orang yang tak mendapat bagian dari hidayah dan petunjuk-Nya. Sungguh ajaib orang yang tak beriman, tapi lebih ajaib lagi orang bisa beriman, demikian salah satu ungkapan klasik.

Mengapa seseorang memperoleh taufik dan hidayah-Nya, sementara orang lain tidak? Allah berulangkali dalam firman-Nya telah berjanji: siapa saja yang bersungguh-sungguh memohon, pasti diberi. Kriteria bersungguh-sungguh disini sangat kompleks, namun secara praktis ditandai dengan keinginan baik (positif) bagi diri dan yang lainya: manusia, hewan, tetumbuhan, alam sekitar. Adapun keinginan positif ini bisa meliputi kasih-sayang, kerendah-hatian, kesantunan, kearifan, kejujuran, kecerdasan, keadilan, kedermawanan, dan mementingkan yang lainnya dibandingkan diri sendiri. Demikianlah muncul istilah sodaqoh (pembenaran), maksudnya: jalan kebenaran. Kisah pencarian Nabi Ibrahim yang terekam dalam Al Qur’an relevan kita baca kembali. Seseorang yang tidak bersungguh-sungguh, berkeinginan negatif bagi diri dan yang lainnya, merupakan kebalikan dari syarat memperoleh hidayah dan taufik-Nya.

Kebencian, kesombongan, kekejaman, kejumudan, fanatisme, kebohongan, keserakahan, kebodohan, kedzaliman, kepelitan, dan egoisme hanyalah beberapa contoh ciri keinginan negatif. Sungguh praktis sabda Nabi Muhammad yang berikut ini yang kurang-lebihnya berbunyi: tidaklah seseorang disebut beriman kepada Allah manakala dia tidur dengan perut kenyang sementara tetangganya kelaparan. Allah, God, Tuhan, Gusti, Pangeran, Om dan entah apalagi istilahnya dalam berbagai bahasa, keMaha-an-Nya tidak mungkin dipahami sepenuh-penuhnya dan sebenar-benarnya oleh manusia yang serba terbatas. Al Qur’an memberikan batasan-batasan yang sekadar perlu, karena memang Allah tidak pernah menuntut seseorang kecuali sebatas kemampuannya saja. Dialah Allah pencipta (khaliq) segala sesuatu (makhluk), tiada berputra dan tidak diputrakan, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi rejeki, Maha Esa tiada sekutu, tiada apapun yang setara/ sama dengan-Nya. Apapun yang kita bayangkan mengenai diri-Nya, bukanlah diri-Nya, Maha Suci Dia, karena bayangan hanyalah makhluk yang diproduksi makhluk (akal), sedangkan Allah adalah Khaliq. Yang membuat meja tentu bukan meja, melainkan tukang kayu. Antara meja dan tukang kayu tentu tidak sama bentuk dan sifatnya, demikian guru agama kami waktu di SD menjelaskan. Allah dapat dikenali dengan nama-nama-Nya yang Indah (asmaul husna) yang jumlahnya 99 nama, sebagaimana diterangkan Al Qur’an dan sabda Nabi Muhammad SAW. Walloohu a’lam.

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Para ulama sepakat, bahwa mengimani keberadaan malaikat hukumnya wajib. Dalam urutan rukun-rukun iman yang jumlahnya 6 (menurut madzhab sunni) atau 7 (menurut madzhab syi’i) dan cabang-cabang keimanan yang jumlahnya sekitar 78, beriman kepada malaikat ini menempati urutan kedua. Mengimani keberadaan malaikat merupakan bagian dari mengimani hal-hal gaib, hal-hal yang tak terdeteksi penglihatan mata. Sebagai salah satu jenis makhluk Allah, malaikat diciptakan untuk selalu taat kepada perintah serta tujuan penciptaan-Nya dan sama sekali tak pernah ber-maksiat kepada-Nya. Hal itu disebabkan malaikat tidak diberi nafsu, seperti nafsu seks, makan, minum, memiliki, dan sebagainya.

Bila manusia diciptakan dari saripati tanah dan syetan diciptakan dari api, maka malaikat diciptakan Allah dari cahaya. Bila manusia dan syetan memiliki jenis kelamin, malaikat tidak berjenis kelamin. Setiap mobilitas apapun di alam semesta ini, mulai dari yang paling kecil seperti proses-proses yang terjadi di dalam setiap sel, atom, proton, neutron, electron atau yang lebih kecil dari semua tersebut, sampai dengan proses – proses yang dialami benda-benda besar seperti planet, bintang, galaksi, langit, bumi, ‘arsy selalu malaikat dilibatkan Allah sebagai petugasnya. Tiada satu malaikat pun yang diciptakan Allah kecuali memiliki tugasnya masing-masing. Bagi seorang muslim, mengimani malaikat Allah tidak diharuskan mengetahui detil-detil mengenai malaikat beserta tugasnya, karena hal demikian tidaklah manusia mampu.

Allah memang tidak pernah membebani setiap hambanya kecuali sebatas kemampuannya. Adapun secara global, setiap muslim minimal mengenal 9 tokoh malaikat beserta tugasnya, yakni:
(1) malaikat Jibril (sering disebut Gabriel) bertugas utama menyampaikan wahyu Allah kepada para Nabi,
(2) malaikat Mikail (Michel) bertugas utama membagikan rejeki kepada seluruh makhluk Allah, termasuk mengatur musim,
(3) malaikat ‘Izroil bertugas utama mencabut nyawa setiap makhluk hidup,
(4) malaikat Roqib bertugas utama mencatat/merekam perbuatan baik setiap hamba,
(5) malaikat ‘Atid bertugas utama mencatat/merekam perbuatan buruk setiap hamba,
(6) malaikat Munkar dan Nakir bertugas utama mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada manusia di alam barzah/kubur,
(7) malaikat Ridwan bertugas utama menjaga surge
(8) malaikat Malik bertugas menjaga neraka, dan
(9) malaikat Isrofil bertugas utama meniup sangkakala dimulainya kiamat dan diawalinya Hari Kebangkitan

Dalam menjalankan tugas utamanya, ke-9 malaikat tersebut memiliki anggota yang jumlahnya hanya diketahui yang bersangkutan dan Allah semata. Misalnya, malaikat Malik memiliki anggota malaikat Zabaniyyah yang bertugas menyiksa penghuni neraka. Di samping melaksanakan tugas utama, mereka juga memiliki tugas-tugas lain seperti senantiasa memohonkan ampunan dan kebaikan-kebaikan bagi setiap hamba, membisikkan ilham-ilham kebenaran dan kebaikan di hati manusia (malaikat Mulhim) serta mengamini doa-doa yang dimohonkan seorang hamba kepada Allah.

Sebab tercipta dari cahaya, malaikat diberi kemampuan oleh Allah berubah bentuk melebihi cepatnya perubahan bentuk gas. Demikianlah misalnya Malaikat Jibril bilamana menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW paling sering bersosok pemuda tampan seperti Dahyah, salah seorang sahabat Nabi yang terkenal paling tampan dan modis. Nabi sendiri, seperti diterangkan Al Qur’an dalam surat An Najm, baru dua kali melihat bentuk asli Malaikat Jibril yang super besar, yakni sesaat setelah wahyu pertama di Gua Hira dan ketika di Ufuk Tinggi sebelum Sidrotul Muntaha pada waktu peristiwa Isro’ dan Mi’roj. Begitu besarnya sang malaikat, sampai memenuhi cakrawala. Mata terbuka melihat, dipejamkan pun terlihat. Untuk sekadar gambaran, Malaikat Rahmah yang lebih kecil bentuknya dibandingkan 9 tokoh malaikat yang telah disebutkan di atas, termasuk malaikat Jibril, digambarkan oleh Nabi bila seluruh air laut ditumpahkan pada keningnya, tak setetes air pun yang tumpah. Bisa dikira-kira berapa besarnya malaikat Jibril. Syeikh Nawawi Al Bantani mengatakan, “malaikat yang berada di langit lebih banyak daripada yang berada di bumi”. Pernyataan beliau ini menunjukkan bahwa proses-proses yang terjadi di langit dengan tujuh dimensinya, jauh lebih kompleks dan rumit dibandingkan dengan prosesproses yang terjadi di bumi dengan tujuh dimensinya pula.

Pada dasarnya, hanya para Nabi dan orang-orang pilihan Allah (wali) yang dapat berkomunikasi dengan malaikat. Secara sederhana, ciri pertama dan utama dari orang-orang pilihan Allah (wali) adalah orang-orang yang sering dihadiri Nabi Muhammad SAW (bertemu dengan beliau) dalam alam mimpi. Syetan sering menipu manusia dengan berpura-pura menjadi malaikat. Tidak heran jika banyak orang mengaku bertemu dengan malaikat. Yang benar, selain para nabi dan orang-orang pilihan Allah, mereka hanya bertemu dengan syetan yang mengaku-aku sebagai malaikat. Na’udzu billaah. Wa billaah at taufik wal hidaayah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Walloohu a’lam.

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Dalam urut-urutan rukun Iman, mengimani atau mempercayai kitab-kitab Allah atau buku-buku suci yang diturunkan Allah kepada para nabi, menempati urutan ketiga. Setelah beriman kepada Allah dan malaikat-Nya, seorang muslim wajib mengimani kitab-kitab Allah Secara imaniah, pada masa manusia masih berbentuk ruh semata (zaman azali), terjadilah perjanjian antara arwah (ruh-ruh) dengan Tuhan. Al Qur’an mengisahkan yang kurang lebihnya: “..Tuhan bertanya: Adakah Aku sesembahan kalian? Arwah menjawab: Kami bersaksi…” Selanjutnya, terjadilah kesepakatan antara arwah dengan Tuhan mengenai nasib mereka kelak ketika dihidupkan di dunia; pilihan jenis kelamin, jodoh, ikatan ruh satu dengan ruh lainnya (sebagai anak, pasangan hidup, orang tua, kakek, nenek ), jumlah rejeki, usia, jenis cobaan, dan sebagainya. Demikianlah takdir dituliskan. Tuhan hanya menuntut satu hal: apapun dan bagaimana pun kesepakatan itu, manusia harus menyembah kepada-Nya, karena itulah tujuan mereka diciptakan.

Ketika manusia secara berurutan memasuki periode hidup di dunia, kehidupan di dunia membuat mereka lalai pada perjanjian semula sebagai tujuan mereka diciptakan. Sifat Maha Kasih Allah menjadi sebab diutusnya para Nabi yang adakalanya dengan disertai dengan diturunkannya kitab suci untuk mengingatkan apa tujuan mereka diciptakan: menyembah kepada-Nya. Kitab-kitab Allah yang wajib dipercayai yakni Suhuf-suhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim dan Musa, kitab Taurat atau Torat atau Perjanjian Lama yang diwahyukan Allah kepada Nabi Musa, kitab Zabur yang diwahyukan Allah kepada Nabi Daud atau David, kitab Injil atau Bibel atau Perjanjian Baru yang diwahyukan Allah kepada Nabi ‘Isa, serta penutup dan pelengkap dan penyempurna semua kitab suci yakni Al Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Pamungkas Muhammad SAW.

Setiap kitab suci yang diturunkan selalu mengisyaratkan akan datangnya nabi dan kitab suci berikutnya yang akan dihadiahkan Tuhan kepada manusia dan akan datangnya hadiah terbesar dari Tuhan yakni Nabi Pamungkas (Muhammad atau Ahmad SAW) beserta kitab suci Pamungkas yang merangkum dan menyempurnakan kitab-kitab suci sebelumnya, yakni: Al Qur’an.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada pemeluk agama non-Islam, perlu disampaikan bahwa secara ilmiah, para ahli dari berbagai macam disiplin ilmu mengetahui, diantara kitab-kitab suci yang telah diturunkan Allah tersebut, hanya tinggal Al Qur’an saja yang masih benar-benar asli. Penerjemahan Al Qur’an pun senantiasa menyertakan teks aslinya dalam bahasa Arab. Sedangkan kitab-kitab suci lainnya telah mengalami proses campur tangan manusia, baik menyangkut isi maupun katakatanya. Hal ini sesuai dengan sindiran berkali-kali dari Allah dalam Al Qur’an, kurang-lebihnya artinya berbunyi: “… mereka mengubah ayatayat Tuhan dengan tangan mereka sendiri, kemudian mengatakan ini dari Tuhan kalian…”. Karena keasliannya, Al Qur’an yang terdiri dari 30 juz, 114 surat, 6666 (enam ribu enam ratus enampuluh enam) ayat dapat dengan mudah dihapalkan siapa saja. Bandingkan dengan buku yang hanya 100 halaman saja misalnya, sulit atau malah mustahil dapat dengan mudah dihapal.

Sejak pertama kali diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW sampai sekarang, menghapal Al Qur’an menjadi salah satu kebiasaan orang-orang Islam dengan koridor hukum fardlu kifayah (kewajiban bersama). Hari ini, jutaan umat Islam adalah seorang hafidz (hapal Al Qur’an). Seiring waktu, diantara mereka mungkin ada yang meninggal dunia, tetapi hafidz-hafidz baru terus bermunculan. Demikianlah salah satu perwujudan janji Tuhan untuk terus menjaga keaslian dan kemurnian Al Qur’an: isi, kata-kata, bahkan sampai “titikkoma”-nya.

Sebab keasliannya pula, setiap ayat Al Qur’an senantiasa cocok dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Jauh sebelum Galileo Galilei dihukum mati pihak gereja karena statemennya “bumi itu bulat” tidak sesuai dengan Bibel, Al Qur’an telah mengisyaratkan “bulat”-nya tidak hanya bumi, tapi juga matahari, bulan, bintang. Jauh sebelum ilmu kedokteran menjelaskan proses pembuahan sperma atas ovum, lalu menjadi zigot, janin dan keluar dari rahim, Al Qur’an secara rinci telah menjelaskannya. Perlu diingat, Tuhan pun membuat pernyataan tantangan kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, yang bunyi artinya kurang-lebih:

“Jika kalian dalam keraguan mengenai (Al Qur’an) yang Aku turunkan kepada hambaKu (Muhammad), datangkan (buatkanlah) satu surat saja yang seperti itu, ajaklah bekerja sama siapa saja selain Allah untuk membuatnya. Tetapi, jika kalian tak mampu membuatnya, danmemang kalian tak akan mampu, takutlah akan api neraka yang bahanbakarnya adalah manusia dan batu. Itulah (neraka) yang disediakanbagi orang-orang kafir (tidak mempercayai Al Qur’an).”

Dikaitkan dengan mukjizat yang biasa menyertai para nabi, Al Qur’an adalah mukjizat terbesar dari kenabian Muhammad SAW. Nabi Musa a.s bermukjizatkan tongkat yang dengan ijin Tuhan bisa memakan ular-ular para penyihir, membelah laut merah, memunculkan mata-air di celah bebatuan, menghidupkan mayat yang telah dikuburkan, dan
telapak tangan beliau yang bercahaya tanpa noda. Nabi Isa yang dengan menyebut nama Tuhan bisa menghidupkan patung burung, orang yang telah mati, dan menyembuhkan kebutaan sejak lahir. Nabi Muhammad SAW juga dianugrahi berbagai mukjizat, namun beliau berkali-kali menyampaikan Al Qur’an-lah mukjizat terbesarnya. Mukjizat yang dapat dinikmati siapa saja sampai akhir masa.

Sebagian ulama seperti Imam Syafi’i, Al Ghazali, sampai Syeikh Nawawi Al Bantani menafsirkan sabda nabi tersebut dengan kefasihan Al Qur’an. Kefasihan disini maksudnya adalah kebenaran, kecerdasan, kesahihan, ketakterbantahan dari Al Qur’an sepanjang masa. Maksudnya, siapa saja yang cerdas, cermat, jujur, dan objektif mempelajari Al Qur’an, sudah semestinya mengimani Al Qur’an. Walloohu a’lam.

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Imam At Tirmidzi meriwayatkan satu hadits yang sudah sangat populer, kurang-lebih artinya berbunyi,”Tidaklah seorang hamba beriman -secara sempurna- hingga dia beriman pada takdir, takdir baik atau takdir buruk, dan hingga dia meyakini bahwa apa saja yang menjadi kepastian (takdir) bagi dirinya tak akan bisa dihindarkan dari dirinya, serta apa saja yang bukan menjadi kepastian (takdir) bagi dirinya tak akan bisa mengenai dirinya. Dalam redaksi kalimat yang berbeda, Allah kurang lebih telah berfirman di dalam Al Qur’an yang artinya, “…Bahkan tiada selembar daun yang gugur kecuali telah tertuliskan dalam Buku Catatan (takdir)…”

Persoalan iman kepada takdir (kepastian, ketentuan, keputusan) Allah merupakan topik yang rumit dan berbahaya. Saking rumit dan berbahayanya, dengan penuh kasih Rasulullah sendiri sampai memperingatkan, bahwa banyak mengotak-atik perihal takdir itu termasuk penyakit nifak/munafik. Na’udzubillaah. Pembicaraan topic takdir ini pula yang menjadi sebab munculnya aliran yang sering disebut dengan Qodariyah, Mu’tazilah dan Ahlus Sunah Wal Jama’ah.

Yang satu bilang, karena semua sudah ada takdirnya, hamba itu sekadar seperti wayang yang dimainkan sang dalang, tidak perlu ikhtiar (memilih tindakan), tidak perlu usaha, begitu kira-kira pendapat penganut Qodariyah. Yang lain bilang, takdir itu di tangan manusia, Allah memberi kebebasan penuh, begitu kurang-lebih orang Mu’tazilah berkata. Yang seharusnya, Ahlus Sunah Wal Jama’ah menjelaskan, takdir itu tidak diketahui seorang hamba kecuali setelah terjadi, setiap hamba wajib berikhtiar karena demikianlah perintah Allah. Inilah yang agaknya sesuai dengan firman Allah yang artinya kurang lebih, “…maka, bilamana engkau telah ber’azam (berikhtiar dengan sungguh-sungguh), bertawakkal-lah (berserah dirilah dalam urusan hasil) kepada Allah…”

KH Muhammad Khatib, pengasuh Pondok Pesantren Fadlun Minalloh Bantul, pernah mengatakan, “ Allah menyuruh hamba agar berusaha mewujudkan keinginannya. Jika ada seratus orang sukses, limapuluh orang diantaranya menjadi sukses disertai rajin berusaha, limapuluh diantaranya sukses meskipun tanpa berusaha. Sebaliknya, jika ada 100 orang gagal, 50 diantaranya gagal setelah rajin berusaha, 50 orang lainnya gagal disertai malas berusaha. Sukses atau gagal itu tidak bergantung kepada usaha, tetapi bergantung kepada takdir. Hanya saja, orang yang telah rajin berusaha, gagal atau sukses hasilnya, dia telah melaksanakan perintah Allah sehingga boleh berharap akan pahalanya. Sedangkan orang yang malas atau tidak mau berusaha, sukses atau gagal hasilnya, dia tetaplah berdosa karena tidak mau melaksanakan perintah Allah.” Walloohu a’lam.

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Yang dimaksud beriman kepada Hari Akhir yakni percaya pada adanya hidup setelah kematian, meliputi adanya kehidupan di alam barzah (alam kubur), hari kehancuran semesta (kiamat qubro, kiamat besar), hari kebangkitan dari alam kubur, hari pemeriksaan dan penghitungan amal (hisab), hari penimbangan dan pengadilan, tugas melewati titian yang membentang dari mahsyar (padang tempat pengadilan) di satu ujung dan di ujung lainnya membentang surga serta di bawahnya jurang neraka menganga, adanya surga dan neraka. Dalam urutan rukun iman, beriman kepada hari akhir ini berada pada urutan keenam.

Tahapan kehidupan kita pada mulanya ialah di zaman/alam azali, ketika kita masih berbentuk ruh tanpa badan. Di sanalah segala perjanjian kita dengan Tuhan ditulisankan: umur, rezeki, jodoh, hubungan kekerabatan dengan ruh-ruh lainnya (yang satu jadi anak, lainnya jadi orang tua, dan sebagainya). Ketetapan itulah yang disebut takdir. Satupersatu, sesuai dengan takdir, ruh-ruh kita secara bergiliran dimasukkan ke dalam janin sebelum memasuki tahapan kehidupan berikutnya, yaitu kehidupan di dunia. Tahapan kehidupan di dunia ini adalah fase paling pendek diantara tahapan kehidupan sebelumnya (alam azali) dan sesudahnya (alam barzah/kubur, hari kebangkitan, hari pengadilan, dan kehidupan abadi di surga/neraka). Meskipun berfase paling pendek, tahapan kehidupan di dunia ini menentukan bahagia atau duka-cita kita pada tahapan kehidupan berikutnya.

Memang, kehidupan di dunia ini hanyalah ujian bagi kita di hadapan Allah. Masihkah kita konsekuen dengan pernyataan kita di alam azali bahwa kita selama dihidupkan di dunia akan senantiasa beribadah kepada-Nya, ataukah –na’udzubillah—lalai: tergoda nafsu, syetan dan gemerlapnya dunia. Jika kita konsekuen beribadah kepada Allah, sukses dan bahagialah kita pada tahapan kehidupan di dunia dan tahapan kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, bila lalai, mungkin pada tahapan kehidupan di dunia ini tetap sukses, namun pada tahapan kehidupan berikutnya hanya duka-cita yang dialaminya, na’udzubillah.

Datangnya kiamat sughro (kiamat kecil), yakni kematian, menandai perpindahan kita pada tahapan kehidupan berikutnya: kehidupan alam kubur/alam barzah. Telah populer bagi kita bahwa Rasulullah pernah bersabda; kehidupan alam kubur itu adalah salah satu fase kehidupan dunia dan kehidupan akherat. Rasul juga bersabda, alam kubur itu bagi seseorang bisa menjelma menjadi taman diantara taman-taman surga, atau –na’udzubillah—lubang diantara lubang-lubang neraka.

Bagi yang lulus ujian pada fase kehidupan dunia, alam kubur adalah taman diantara taman-taman surga. Mereka ¬-¬ mudah-mudahan termasuk kita, amin – menikmati segala fasilitas kesuksesan dan kebahagiaan yang disediakan Allah sambil menunggu saat kiamat kubro terjadi. Tingkat kemewahan dari fasilitas alam kubur itu tentu saja bertingkat-tingkat, sesuai dengan tingkat-tingkat ketaqwaan seseorang di masa hidupnya (masa hidup di dunia).

Mereka pun diberi fasilitas memonitor/ mengamati bahkan menyertai orang-orang yang masih hidup di dunia, apalagi terhadap anak/istri/suami/sanak-kerabat, sahabat dan kenalan mereka semasa hidup di dunia. Jika kenalan mereka yang masih hidup di dunia tekun beribadah, mereka ikut bergembira dan mendoakan agar Allah senantiasa memberi pertolongan agar kenalan tersebut tetap konsisten tekun beribadah. Jika kenalan mereka bermaksiat, mereka memohonkan ampun kepada Allah dan memohonkan petunjuk agar kenalan tersebut segera insaf dan bertobat.

Beberapa kesaksian ulama-ulama yang tepercaya yang direkam kitab kuning-kitab kuning besar seperti Ihya Ulumuddin mengabarkan, ruh-ruh para kekasih Allah sering menghadiri majelis-majelis peribadatan di dunia dan hadir berkomunikasi dengan orang-orang saleh yang masih hidup di dunia. Walloohu a’lam.

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Jum’at itu rajanya hari-hari, begitu sabda Nabi SAW. Keagungan Hari Jum’at bahkan melebihi Hari Raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Allah menganugrahkan Hari Jum’at untuk ummat Muhammad SAW. Orang Islam yang mati malam Jum’at atau hari Jum’at, bebas dari pertanyaan Alam Kubur, sejahtera sejak di sana, mati syahid. Sebelumnya, hari Sabtu adalah hadiah Allah untuk umat-umat terdahulu.

Di Malam Jum’at dan Hari Jum’at, Allah melipatgandakan pahala ibadah minimal 10 kali lipat dibanding hari lain. Doa pun lebih didengar Allah. Taubat dan Istighfar lebih diterima. Tapi, kalau mengkhususkan puasa sunat di Hari Jum’at, makruh hukumnya, kecuali puasa wajib (nadzar, nyaur hutang, hajat). Kalau mau puasa, Kamis atau Sabtu juga harus puasa, atau Puasa Dawud. Demikian penjelasan para ulama. Di Mekah, orang – orang punya kebiasaan bersedekah pada malam Jum’at. Nasi dengan ayam utuh dan buah-buahan, roti, daging kambing, minuman sari buah, dan juga uang dibagi-bagikan. Kalau mau membuktikan, setelah Sholat Isya’, duduk saja di tepi jalan seputar Masjidil Haram barang seperempat jam: pasti dapat bagian.

Di pesantren, umumnya Malam Jum’at dijadwal baca Sholawat Nabi dan atau pembacaan Kitab Maulid Nabi SAW (Berjanjen, SimtudDuror, Dibak, dll), atau diisi tahlilan. Ngaji rutin libur. Sejak Malam Jum’at sampai Jum’at sebelum Ashar, biasanya para santri punya target minimal sudah baca Sholawat Nabi SAW seribu kali. Juga ada yang ditambah membaca Surat Al Ikhlas 200 kali.

Tentu puncak acaranya adalah Jum’at-an. Di zaman dahulu, orang-orang hebat pergi Jum’atan sejak pagi buta. Mereka berlomba paling awal datang. Kuku-kuku dipotong, bulu ketiak dan rambut hidung yang menjorok keluar dicabuti, kumis dicukur, jenggot dirapikan, rambut kemaluan dipotong, mandi keramas, gosok gigi, pakai baju yang paling bagus syukur-syukur putih, mengenakan serban, minyak wangi, demikian persiapan Jum’at-an yang disunatkan.

Di masjid, menunggu acara dimulai, i’tikaf diisi dengan sholat sunat, baca sholawat-istighfar-tasbih-tahlil-Yasin-Al Ikhlas, dll, dengan suara lirih (agar tak mbrebeki orang lain karena hukumnya haram) dan membaca/memahami artinya, tafakur, introspeksi, renungan ukhrowi dsb. Hening. Tenang. In meditation.

Bila khotib telah naik mimbar, berarti acara inti telah dimulai. Harus lebih khusyuk, tak ubahnya sholat, agar sempurna pahalanya. Maka, khotib yang pandai itu khotbahnya to the point, pendek-ringkas-berisipadat-sederhana-jelas-ora nggedabyah, justru sholatnya yang panjang, begitu kurang lebih petunjuk Nabi SAW. Khusyuk itu dijaga sampai Sholat Jum’at berakhir. Wirid setelah Sholat Jum’at yang popular ialah istighfar 3 kali, Fatihah-Al Ikhlas-Falaq-An Nas masing-masing 7 kali (biasa dibilang wirid asuransi keselamatan, karena ada hadits yang mengabarkan, yang membacanya dijamin Allah selamat sampai Jum’at berikutnya), sholawat, dll. Ritus Jum’at, ritus penghapus dosa sepekan sebelumnya, ritus meraih sukses dunia-akherat dalam ridlo Tuhan Semesta Alam Raya. Walloohu a’lam.

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

“Hikmah (semua kualitas) itu milik orang beriman yang tercecer, dimana pun kalian temukan, pungutlah!” Demikianlah kurang lebih arti dari sabda Nabi Muhammad SAW yang sudah sangat populer. Maksudnya, yang sesuai dengan “iman” atau “islam” itu kriterianya

adalah kualitas, yang terbaik. Terbaik untuk semesta alam, karena memang Islam itu rahmat/kasih bagi semesta alam sesuai sabda Nabi SAW yang juga sudah sangat terkenal.

Kualitas atau yang terbaik di sini sesuai dengan tinjauan semua segi dan zaman, termasuk logika dan estetika. Berangkat dari simpul sederhana inilah seharusnya kita memahami sosok pribadi tokoh-tokoh Islam mulai dari pribadi paling tinggi kualitasnya yakni Nabi Muhammad SAW -sebagaimana difirmankan Allah SWT: dalam diri Beliau itulah suri tauladan terbaik dan ditegaskan para sahabat bahwa Beliau itu berakhlaq Al Qur’an- dan tokoh-tokoh legendaris lainnya, juga teks-teks dalam Islam: Al Qur’an, Hadits, dan ijma para salafus solihin. Jika tidak demikian, kemungkinan “salah paham” dalam mengapresiasi tokoh dan membaca arti teks tersebut menjadi sangat terbuka, sebagaimana akhirakhir ini sering kita melihat gejala-gejalanya.

Sekadar kilas balik, seperti sudah dimaklumi bahwa pada mulanya Nabi Muhammad SAW memerintahkan penghapalan sekaligus penulisan tiap ayat Al Qur’an. Adapun mengenai hadits (sabda-sabda) Beliau, dibolehkan meriwayatkan (menghapalkan) tapi dilarang menuliskan. Hadits Nabi SAW baru mulai dituliskan pada masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz.

Hikmah dari hal itu kemurnian Al Qur’an dapat lebih terjamin, sedangkan tradisi pemahamannya secara lisan – turun-temurun – memperoleh tempatnya. Tidak heran jika para santri diharuskan menghapalkan mata-rantai ilmu (sanad) sang kyai (guru). Misalnya, si A adalah santri si B yang nyantri si C yang adalah santrinya si D, dan seterusnya sampai terakhir merujuk kepada nama salah satu sahabat Nabi SAW. Historisitas ilmu yang dipelajari dijaga seperti itu, sehingga orisinalitas pemahaman ilmu lebih bisa diandalkan. Bias pemahaman pun lebih mungkin dihindarkan.

Pada saat ini, di kalangan pesantren tradisional masih pula berlaku tradisi menjaga historisitas lisan sejenis itu. Salah satunya yakni, jika ada “kyai baru”, pertanyaan untuk keabsahan ke-kyaiannya menyangkut dua hal: sang “kyai baru” itu anak turun siapa dan atau santrinya siapa. Jika kedua hal itu, atau paling tidak satu hal diantara keduanya meyakinkan, barulah sang “kyai baru” mendapatkan tempat. Di samping itu, masih pula berlaku jargon: yang tahu kyai, hanyalah para kyai. Maksudnya, kekyaian itu tidak dilegitimasi massa, tetapi oleh kyai yang lebih sepuh (senior). Meskipun kelihatan rumit dan kurang demokratis, tapi dari segi keterjagaan pemahaman yang “benar” mengenai agama, lebih dapat diandalkan.

Berbeda dengan kalangan yang merasa dirinya modern; siapa saja boleh berbicara dan berpendapat mengenai agama, bahkan seorang anak kecil sekalipun (buktinya ada PILDACIL/ pemilihan dai kecil). Tak berlebihan, dari kalangan inilah sekarang mulai terasa “keanehankeanehan” dalam beragama. Semacam keliru memahami teks keagamaan. Ambil satu contoh: Nabi SAW pernah bersabda, “sampaikan (sabda) dariku walau satu ayat”. Hadits ini dengan sembrono diartikan bahwa tiap orang harus menyampaikan dakwah agama meskipun dia baru tahu agama “satu ayat”. Padahal, hadits ini disabdakan Nabi SAW kepada para Sahabat r.a yang sangat berhati-hati hingga mereka enggan berbicara mengenai ilmu agama kepada orang lain karena takut keliru, meskipun mereka sudah tahu agama “beribu-ribu ayat”.

Firman Allah yang artinya lebih-kurang: “ …janganlah kamu lupakan bagianmu yang di dunia…” diartikan pula secara ngawur untuk “habishabisan” memburu dunia, padahal ayat tersebut berkait dengan empat sahabat (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali r.a yang hendak pergi ke sebuah gua agar bisa semata-mata beribadah di saat usia mereka masih muda). Pendek kata, ayat ini ditujukan kepada mereka yang hati dan pikirannya benar-benar berisi akherat semata sampai lupa segala urusan dunia yang masih harus diselesaikan: ayat yang cocoknya bagi orang yang ekstase terus-menerus padahal belum saatnya demikian.

Yang paling katrok, hadits “panjangkanlah sujudmu” yang maksudnya ketika kita sholat sunat diperintahkan untuk “berlamalama” -sholatnya dibuat lama- agar bisa lebih menghayati, oleh sementara kalangan diterapkan jadi: ketika sujud ndlosor alias badannya dipanjangkan ke depan sehingga mirip orang yang tertelungkup atau malah sulit dibedakan antara sujud atau push up.

Lalu, hadits “Rapikanlah (rapatkanlah) barisan sholat kalian” diartikan secara kaku jadi berdiri mengangkang sambil menginjak telapak kaki orang yang sholat di kanan-kirinya. Juga soal jenggot yang disabdakan kesunatannya oleh Nabi SAW tanpa memperhatikan konteks dan hadits, “Sungguh Allah Maha Indah dan suka keindahan”. Padahal, insyaallah yang dimaksudkan Nabi SAW itu agar lelaki tampil gagah tampan (struktur wajah orang Arab itu menjadi estetis jika jenggot tebal yang mereka miliki dipanjangkan). Bandingkan struktur wajah orang Jawa pada umumnya, dengan jenggot satu-dua helai seandainya dipanjangkan. Mungkinkah Nabi SAW yang ketampanannya dua kali lipatnya Nabi Yusuf a.s menyuruh umat laki-lakinya berpenampilan katrok? Yang benar saja, Mas!

Salah paham paling mengerikan akibatnya adalah menyangkut sabda Nabi SAW kepada Sayyidina Ali k.w yang kurang-lebih artinya berbunyi: “…kalau bertemu orang, suruh dia baca syahadat, dan kalau orang itu menolak, bunuh saja….” Salah paham atas hadits inilah agaknya yang menjadi akar keyakinan teroris yang akhir-akhir ini tampil ke permukaan.

Hadits sahih yang hampir pasti dikutip semua kitab kuning ini konteksnya adalah perintah ketika Ali r.a diangkat sebagai seorang panglima perang yang peperangannya melebar kemana-mana. Satusatunya cara mengetahui lawan atau kawan pada waktu itu adalah bersedia-tidaknya seseorang membaca syahadat. Jika tak mau membaca syahadat berarti lawan, dan jika bertemu lawan di medan peperangan pilihannya hanya membunuh atau dibunuh.

Di luar medan peperangan, Allah berfirman yang kurang-lebih artinya: “…tidak ada paksaan dalam beragama…” dan “…untukmu agamamu, untukku agamaku (maksudnya, saling bertoleransi kepada penganut agama lain)”. Nabi SAW pun lebih-kurang telah bersabda: “…hiduplah sesuka kalian, kelak di akherat nanti semua akan di pertanggung jawabkan….” Nabi SAW pun ketika memotong kambing selalu mengirimkan (memberi) dagingnya kepada tetangganya yang Yahudi dan Nasrani. Nah!

Masih banyak kesalahpahaman tentang ajaran Islam yang sering kita jumpai akhir-akhir ini. Islam yang elegan, indah, mulia, dan sebagainya yang pada intinya adalah “kualitas”, kesannya menjadi “berantakan” karena disalah pahami. Wallohu a’lam.

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Semboyan “Tersesat Masuk Surga” membuat banyak orang menduga-duga maksudnya: Mau bikin aliran sesat? Mau membela aliran sesat? Atau bagaimana? Jangan asal bikin semboyan, brow! Semboyan tersebut memang slengekan, lebih tepatnya guyon maton, tapi tidak asal-asalan, tidak asal ngawur dan ada dasarnya. Kelihatan gaul dan bikin penasaran. Apa dasarnya? Ada peristiwa, kurang-lebihnya begini: Suatu ketika, Nabi SAW bersabda kepada para sahabat, ”tidak ada orang yang pantas masuk surga karena amal baiknya”. Para Sahabat heran, dan bertanya: “Termasuk kami, para sahabatmu ini, Ya Rasul?” Nabi menjawab: “Termasuk kalian juga”. Sahabat makin heran dan ketakutan, lantas bertanya lagi: “Bagaimana dengan dirimu,Ya Nabi?”

Sabda Nabi makin mengejutkan, “Termasuk diriku, tidak pantas masuk surga karena amal baikku”. Para sahabat pucat, mereka bergumam: “Berarti tidak ada yang masuk surga…” Dalam situasi genting, Nabi justru tersenyum, dan bersabda, “Banyak, banyak sekali yang masuk surga. Insyaallah termasuk kita. Tapi, kita ini masuk surga karena belas-kasih Allah, bukan karena amal kebaikan kita. Amal kebaikan kita itu untuk mengimbangi nikmat yang telah dianugrahkan Allah kepada kita saja takkan cukup.”

Ya, orang masuk surga itu karena belas-kasih Allah, bukan karena amalnya. Allah biasanya mencurahkan belas-kasih-Nya buat siapa saja yang sungguh-sungguh berusaha menghamba kepada-Nya. Rubrik ini pada kesempatan – kesempatan mendatang, insyaallah akan membahas mengenai bagaimana kita bisa “sungguh-sungguh berusaha menghamba kepada-Nya” dengan cara-cara yang sederhana dan wajar – wajar saja. Kalau Nabi (yang bersih dari dosa) dan para Sahabat (yang amat luar-biasa amal ibadahnya) saja tidak mengandalkan amal baik tetapi mengharap belas-kasih-Nya agar bisa masuk surga, lantas bagaimana dengan kitakita ini yang keterlaluan rajin berbuat dosa dan keseringan lupa kepada-Nya? Lho, dosa apa dan yang mana? Duh, hanya orang-orang yang belum banyak tahu ilmu agama saja yang tidak merasa: tambah umur, tambah rekening dosanya. Hanya orang-orang yang tertipu setan saja yang merasa dirinya bersih dari dosa.

Kalau ada yang bilang: aku banyak beramal. Amboy, pasti orang ini belum pernah baca mengenai kedahsyatan ibadahnya para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan ulama-ulama salaf. Yah, beginilah kita: amal baik tak seberapa, dosa-dosa tak bisa dihitung saking banyaknya, tapi tetap ingin masuk surga, berkat belas-kasih-Nya. Walloohu a’lam

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Rejeb itu satu diantara empat bulan yang dimuliakan Allah. Nabi SAW mengalami Isro’ Mi’roj juga pada Bulan Rejeb. Beribadah pada waktu-waktu yang dimuliakan Allah, termasuk selama Bulan Rejeb, pahalanya di akherat dan barokahnya di dunia dilipatgandakan. Di Bulan Rejeb ini disunatkan berpuasa. Malah, Nabi SAW punya kebiasaan puasa sebulan penuh di Bulan Rejeb, Ruwah, Romadlon. Tiga bulan full!

Di beberapa pesantren, hal tersebut juga masih mentradisi. Misalnya di tempat Almaghfurlah Al’Alamah Al’Arif Billah Shohibut Taj Abuya Dimyati Banten (Mbah Dim): selama Rejeb-Ruwah-Romadlon beliau bersama para santri selalu berpuasa. Abu Hurairoh r.a, mengutip sabda Nabi SAW menjelaskan, puasa di hari pertama Rejeb itu bias menghapus dosa tiga tahun, hari kedua menghapus dosa dua tahun, hari ketiga menghapus dosa setahun, hari keempat dan seterusnya masing-masing dapat menghapus dosa satu bulan. Ada juga yang menjelaskan, puasa sehari di Bulan Rejeb itu sama dengan puasa setahun (364hari).

Para santriwati yang masih punya hutang puasa Romadlon, biasanya menggunakan Bulan Rejeb untuk nyaur utang atau meng-qodlo. Dengan niat meng-qodlo hutang puasa Romadlon di Bulan Rejeb, otomatis dia dapat pahalanya berpuasa di bulan tersebut. Sebab, kesunatan puasa Rejeb itu terletak pada puasanya itu sendiri, dengan niat semata puasa Rejeb atau dengan niat-niat lainnya: nyaur utang, Senin-Kamis, Puasa Dawud, puasa hajat, atau niat lain sepanjang dibenarkan aturan agama. Sudah dimaklumi, banyak puasa berarti makin sehat, tambah umur, tambah rejeki, tambah makbul berdoa, dan lain-lainnya. Yang penting banget: mengurangi jumlah dosa-dosa.

Bulan Rejeb itu juga ideal untuk:

1. Bertaubat dengan memperbanyak istighfar,

2. Meningkatkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya SAW

dengan memperbanyak membaca sholawat.

Diantara Salafus Solihin punya kebiasaan menyambut datangnya Rejeb dengan beribadah semalaman, dan antara Maghrib-Isya’ di Bulan rejeb mereka sholat sunat 2 roka’at x 10, jadi jumlahnya 20 roka’at. Mereka pun meningkatkan sedekah serta banyak menolong sesama. Rejeb, ibarat gladi resik untuk menyongsong bulan yang lebih agung: Romadlon.

Jikalau kita belum bisa mengamalkannya seperti orang-orang hebat di atas, paling tidak kita mengagumi dan mencintai mereka, supaya kita komanan/dapat bagian pahala dan barokahnya. Amin. Wallaahu’alam.

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

Ya Allah, Dzat Pemilik anugrah, bukan penerima anugrah. Wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Wahai dzat yang memiliki kekuasaan dan kenikmatan. Tiada Tuhan selain Engkau: Engkaulah penolong para pengungsi, pelindung para pencari perlindungan, pemberi keamanan bagi yang ketakutan. Ya Allah, jika Engkau telah menulis aku di sisi-Mu di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka atau terhalang atau tertolak atau sempit rejeki, maka hapuskanlah (semua itu). Hapuskanlah, Ya Allah, dengan anugrah-Mu: celakaku, terhalangku, tertolakku dan kesempitanku dalam rejeki dan tetapkanlah aku di sisimu dalam Ummul Kitab sebagai orang yang beruntung, luas rejeki dan memperoleh taufik dalam melakukan kebajikan. Sunguh Engkau telah bersabda dan sabda-Mu pasti benar, di dalam Kitab Suci-Mu yang telah Engkau turunkan dengan lisan nabi-Mu yang terutus: Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan apa yang dikehendakiNya dan di sisi Allah terdapat Ummul Kitab. Wahai Tuhanku, demi keagungan yang tampak di malam pertengahan bulan Sya’ban nan mulia, saat segala perkara yang ditetapkan dibedakan, hapuskanlah dariku bencana, baik yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi, demi Rahmat-Mu wahai Tuhan Yang Maha Mengasihi. Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau. Amin. Demikianlah kurang-lebih terjemahan doa Nisfu Sya’ban yang diajarkan Nabi SAW kepada kita, doa yang sudah sangat terkenal, terlebih di kalangan pesantren.

Ritus Nisfu Sya’ban yang hukumnya sunat ini, dilaksanakan setelah Solat Maghrib. Bagi yang bisa membaca Al Qur’an, diperintahkan membaca surat Yaa Siin 3 x. Setelah membaca Yaa Siin sekali, diteruskan berdoa: mohon panjang umur untuk beribadah dan taat kepada Allah. Setelah membaca Yaa Siin yang kedua, berdoa: mohon rejeki yang halalbarokah-mudah-banyak untuk bekal beribadah kepada Allah. Adapun setelah membaca surat Yaa Siin yang ketiga, berdoa: mohon dikuatkan iman dan diberi khusnul khotimah. Setelah selesai, barulah membaca doa Nisfu Sya’ban yang terjemahannya telah dituliskan diatas.

Jika kita renungkan, dengan ritus Nisfu Sya’ban itu Nabi Tercinta SAW mengajari kita cara memperbaiki perjanjian nasib (garis takdir) kita di hadapan Allah. Seperti telah diketahui, di zaman Azali, saat kita masih berupa ruh, kita telah menyepakati perjanjian nasib kita di hadapan Allah. Di saat kita berupa janin empat bulan, Allah kembali menegaskan garis nasib kita. Nasib, takdir, sebuah misteri yang tak terjangkau akal. Tapi, yang penting: Allah memberi kita nasib dan takdir yang baik. Mari kita nikmati fasilitas Nisfu Sya’ban tersebut. Walloohu a’lam.

(K.H. Muhammad Fuad Riyadi)

GET UPDATE VIA EMAIL
Berlangganan artikel via email!